Tuesday, July 8, 2014

Magetan #1 : Rumah Tua di Kaki Lawu

Magetan, kota sunyi di kaki Gunung Lawu ini telah membuat hatiku tertunduk takhluk. Menyerahkan diri pada mantra halimun yang melingkupinya bak selimut putih. Air pegunungan yang jernih mengalir di sela bebatuan kali. Udara yang segar seakan mencuci bersih kerak di paru-paru. Lezat panganannya yang terbeli dengan selembar uang lima ribuan. Hingga orkestra alam antara burung, sapi, jangkrik, kodok, dan kambing yang seakan bersekutu merayu agar siapapun sudi singgah, dan kemudian berdiam lebih lama.

Benar saja, aku pun betah untuk berlama-lama menyepi di kota kecil ini. Saat menatap senja yang turun di balik punggung gunung Lawu, ingatanku terlempar pada pendekar perempuan bernama Lasmini, yang kukenal dari sandiwara radio Saur Sepuh, semasa kanak-kanak dulu. Konon, Si Cantik Lasmini tersesat di belantara hutan Gunung Lawu. Seorang perempuan tua bernama Nenek Lawu menemukannya. Kemudian ia  mengajak Lasmini singgah di padepokan. Di tempat ini lah Lasmini menghabiskan bertahun-tahun waktunya untuk belajar ilmu kanuragan dari Nenek Lawu. 

Seperti halnya Lasmini, aku pun merasa seakan tersesat dan terhisap sekaligus, oleh pusaran mantra alam yang ditebarkan lubang-lubang tanah di selingkup Gunung Lawu. Tepat di saat arus kehidupan nyaris menenggelamkan raga dan batinku. Barangkali, seperti juga Lasmini yang ditempa kedigdayaan ilmu kanuragannya dalam pelukan magis pegunungan Lawu, aku mendapati diriku dituntun oleh alam, untuk menghidupkan kembali lentera kehidupan yang lama padam: menulis.

Bila Lasmini menemukan padepokan Nenek Lawu di antara belukar belantara Lawu, aku punya rumah tua di satu sudut kampung tepian kota kecil ini. Rumah di balik rimbun pohon pisang itu seperti sengaja disediakan untukku begitu saja. Ia berjodoh denganku seperti sepatu kaca yang pas di kaki Cinderela. Seorang laki-laki paruh baya yang tiada mengenalku, tiba-tiba saja berbaik budi menyerahkan rumah kosong itu untuk kutinggali.

"Tempatilah selama kisanak mau. Tak usah membayar apa-apa. Cukupi saja ongkos listrik dan airnya. Ada orang yang sudi menempati saja sahaya sudah senang," ujarnya padaku satu sore ketika aku menyusuri kampung Banjeng di timur jantung kota ini sekira setahun lalu.

Rumah tua itu berada 50 meter dari  jalan kampung Banjeng. Letaknya agak menjorok ke dalam, tertutup pohon pisang dan mangga. Di depan rumah dekat jalan ada sungai kecil yang airnya jernih. Aku suka suara gemericik yang datang dari saluran irigasi desa itu. Sederet dengan rumahku itu, ada mushala tua dan sebuah bengkel sepeda motor di seberangnya. 

Anak-anak Si empunya rumah sudah tak ada yang mau tinggal di situ. Dan di rumah tua bekas kandang sapi itu lah kehidupan baru mulai aku jalani. Setapak demi setapak, pelan dan pasti.  

Lama tak berpenghuni, dari kejauhan, rumah itu nampak suram dan berkesan seram di malam hari. Bola lampu listrik dengan menyala temaram membuatnya kian terlihat wingit. Bisik-bisik orang kampung, katanya rumah ini dulunya berhantu. Tetangga sekitar bahkan heran ketika aku sudi menempatinya. Ah, apa pula yang mesti kutakutkan dari sebuah rumah tua bila setan iblis adalah sekutu dan ketakutan itu sendiri adalah musuhku? Rumah adalah tempat beristirah, dan bekas kandang sapi ini memenuhi syarat itu. Maka cukuplah bagiku alasan untuk menerima tawaran si empunya rumah itu untuk menempati rumah tua itu. 

Rumah itu kecil saja. Menghadap ke timur. Ukurannya sekira 4 depa melebar dan 7 depa memanjang ke belakang. Sebelah kiri ada rumah kampung milik seorang ibu penumbuk emping melinjo yang tinggal dengan anak dan suaminya. Di sebelah kanan ada rumah sederhana yang dihuni dua orang anak muda yang ibunya pergi merantau jadi pembantu rumah tangga di Surabaya. Di depannya sebuah rumah cukup mentereng terpisahkan oleh pagar bata, entah siapa pemiliknya. Yang kutahu, ada mobil Avanza yang setiap malam terparkir di samping rumah. Bila dibandingkan dua rumah di kanan kirinya, rumah tuaku masih lebih layak bangunannya. Jadi, perlu alasan apa lagi bagiku untuk menempati rumah tua itu bila di sekitar masih ada yang lebih memprihatinkan kondisinya dan mereka sudi menghuninya? Kurasa aku perlu untuk tahu diri tidak bermewah-mewah.
 
Bagian belakang rumah tua itu adalah sepetak tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar. Ketika awal menempati rumah, kupangkas habis rumput-rumput liar di sekelilingnya agar binatang-binatang liar tak lagi bersembunyi di sana. Pernah suatu malam aku dibuat panik oleh ular hitam yang merayap dari sela bawah daun pintu. Tak ada yang bisa kuperbuat selain melompat ke atas kursi dan diam menahan napas, seraya berdoa komat kamit agar ular itu segera keluar dari rumah. 

Bagian depan rumah tua itu adalah kaca besar yang tak bisa dibuka. Sepertinya sengaja dipasang kaca utuh dengan 3 kolom penyangga berbentuk persegi panjang-yang dimaksudkan sebagai jendela. Namun tak kulihat ada celah udara bisa menembus ke dalam rumah. Hanya cahaya matahari pagi menyembul dari sela-sela pelepah pisang yang bisa menghalau lembab udara dalam rumah itu. Selebihnya, siang hingga petang yang terasa hanya hawa adem. Bila malam tiba, rasa ademnya berlipat kali. Dilihat dari luar, nampak seperti sebuah aquarium besar dengan aku sebagai ikan tunggal yang berenang di dalamnya. 

Kubayangkan, barangkali dari jendela ini lah dulu sapi-sapi diberi makan oleh tuannya. Badannya di dalam kandang dan kepalanya menjulur ke luar melalui jendela itu. Tiga lembar kain korden merah menjulur di balik kaca. Itu adalah satu-satunya penutup pandangan dari luar rumah. Ketika malam hari dari balik tirai itu tetap nampak bayang-bayang gerak gerikku ditempa oleh lampu yang menyala di dalam rumah. 

Ada empat ruang dalam rumah itu. Satu ruang depan bersambung dengan ruang tengah berbentuk L terbalik memanjang ke belakang. Di ruang tamu teronggok sebuah meja kaca berkaki empat terbuat dari kayu. Tiga pasang kursi tua berbusa warna merah mengitarinya. Dua kursi pendek dan satu kursi panjang. Model kursi itu mengingatkanku pada kursi di rumah nenek yang kukira sama tua usianya dengan kursi itu. Khas perabot keluarga menengah era 90-an. 

Pada dinding ruang depan itu terpasang tiga figura foto. Satu foto menggambarkan keluarga berencana-bapak, ibu, satu anak laki-laki, satu anak perempuan-, satu foto ibu dan anak-anak, serta satu lagi foto setengah badan sang Ibu saat muda. Kuperkirakan itu adalah keluarga anak dari si empunya rumah ini. Aku tak sempat bertanya kepadanya soal itu. Kami jarang sekali jumpa. Ia tinggal cukup jauh di rumah barunya yang lebih bagus dari kandang sapi yang kini kutinggali. 

Sebuah almari kayu berukir kembang menempel di dinding ruang depan. Almari itu berisi boneka dan baju. Semua nampak kusam. Bila kulihat dari perabotan yang ditinggalkan, sepertinya keluarga ini cukup berpunya pada masa menghuni rumah ini beberapa tahun silam. 
 
Di ruang tengah, teronggok sebuah meja besi dengan televisi tua diatasnya. Televisi yang hanya menampakkan dua warna: hitam putih. Bila ingin tahu kabar di luar rumah tentang negriku dan negri - negri jauh,  mesin tua itu masih gagah menunjukkan kekokohannya sebagai penyedia informasi. Meski gambarnya terkadang seperti dikerumuni semut, namun itu cukup bagiku yang tak butuh gambar bagus melainkan inti berita. Kerap aku hanya mendengarkan suaranya tanpa melihat gambarnya. 

Sepetak kamar tidur dan gudang kecil berjajar di samping kiri ruang tengah. Hanya ada dua perabot di kamar tidur itu. Satu kasur busa pegas yang sudah reyot karena pegasnya tak lagi berfungsi, dan penuh debu, serta sebuah almari kayu dengan kaca cermin besarberbentuk oval di daun pintunya. Tuan rumah mengijinkanku menggunakan semua barang di rumah itu. Kuputuskan untuk hanya menggunakan almarinya saja. Sedang tempat tidur kupilih membeli yang baru. Memaksakan kasur tua itu hanya akan menambah masalah baru dengan sakit punggung ketika bangun tidur. Sedang barang-barang peralatan dapur kubiarkan saja tetap ada di gudang tanpa pernah kusentuh sama sekali. Debunya terlampau tebal dan aku enggan berurusan dengan debu yang pasti membuatku bersin. 

Di bagian belakang rumah yang terpisahkan oleh dinding bata, ada ruang dapur berlantai tanah yang dipenuhi sarang laba-laba. Dindingnya sebagian nampak berlubang. Sebuah tungku batu teronggok di tengah ruangan. Barang-barang lain seperti cangkul, sabit, sapu nampak berserakan. Aku memilih untuk tak memfungsikan dapur itu. Untuk kebutuhan menjerang air panas dan sekedar membuat kopi, kupilih untuk meletakkan kompor gas kecil di ujung ruang tengah.  Kukunci rapat pintu antara dapur dengan ruang tengah. Tak sekali pun pernah kubuka lagi. Ada rasa seram yang kadang menjalar di pikiranku bila membukanya. Baiknya kuhindari saja. Kupisahkan dapur tua itu dari ruang lain dalam arti sesungguhnya. Benar-benar tak membuka akses di antara keduanya. 

Mulanya,  ketika membeli kasur busa, kukira bisa dengan mudah menaruhnya di atas tempat tidur tua yang sudah ada. Nyatanya pegas reyot itu justru membuat pinggangku ngilu saban kali bangun tidur. Aku pun mencari akal dimana baiknya bisa menaruh tempat tidur. Lantas kuingat gaya rumah kos kawan-kawanku di Jogja yang umumnya hanya kasur di atas lantai dengan meja belajar dan almari buku. 

Dan segera saja kupindahkan meja kursi di ruang depan ke ruang tengah dekat televisi. Lalu selembar tikar yang kutemukan di dekat almari kujadikan alas. Kasur baru itu pun kubaringkan diatasnya. Setelah dipasang sprei dan selimut tebal, tempat tidur itu pun terlihat nyaman untuk dijadikan tempat merebahkan pungung dan beristirah. Begitu lah nyatanya. Selama setahun ini aku tidur di kasur, di atas lantai, tepat di depan kaca jendela rumah tua itu. Kadang bayangan tentang bekas kandang sapi itu menyembul di benakku. Ah, aku tidur di bawah bayangan pantat sapi. 

Untungnya, bayangan buruk itu sirna bila pagi hari kubuka pintu dan kelambu jendela. Burung-burung kecil terlihat melompat-lompat dari pohon melinjo ke pohon jambu di pekarangan depan rumah. Sinar matahari mengintip dari sela daun pisang. Di depan teras rumah ada kulah dengan air bening, dingin, dan segar menantiku membasuh muka. Kamar mandi yang berlapis semen itu cukup bersih. Apa lagi yang mesti kukeluhkan dengan segala kenyamanan ini? Tak layak menurut orang lain, ternyata cukup layak bagiku. Kesederhanaan ini sungguh sudah cukup bagiku. 

Rumah itu menyediakan segala yang kubutuhkan untuk berdiam menyepi dan menulis.  Di Magetan, kaki Gunung Lawu, aku menjumput kembali ruh kehidupanku yang terpenggal. Menulis.

2 comments:

Anonymous said...

woh iki mbak mbak sing twittere @diansasa

Cerita Hantu said...

Apakah rumah itu masih ada sampai sekarang?