Friday, October 31, 2014

Pemimpin Banteng

Ketika banyak orang berharap kau masuk dalam salah satu jajaran kabinet pembantu presiden baru negeri atas angin, aku menjadi liyan. Aku berharap kau tak ada di sana. 

Hari ini, satu pesan pendek dari Ketua masuk ke dalam teleponku. Ia mengabarkan bahwa kau menjadi pendamping tertinggi Ketua Umum, meski sifatnya untuk sementara. Namun besar kemungkinan untuk menjadi permanen saat kongres nanti. Aku berjingkrak girang seperti anak kecil dihadiahi mainan baru.  

Ya, seperti pernah kutulis melalui pesan pendek beberapa waktu lalu kepadamu, aku lebih suka bila kau tetap di Partai, mendampingi Ibu Ketua. Bukan tanpa sebab aku memilih begitu. Di mataku, kau lah sosok yang kurasa pas memegang kendali itu. Partai ini butuh orang dengan ketegasan dan kedisiplinan sepertimu.

Apa yang kau ajarkan padaku lima tahun lalu itu adalah barometerku mengukur kapasitas kepemimpinanmu. Kerja kerasmu selama lima tahun ini adalah bukti kesungguhan tentang cita-cita yang kau tuturkan di hadapanku kala itu. Kepercayaan Ibu kepadamu membuatku tak lagi ragu. Aku percaya padamu meski sempat isu tak sedap menimpamu.

Hubungan kita bukan hubungan politis. Kepercayaanku padamu adalah soal keyakinan pada seseorang. Sebagaimana selama ini kita bangun persahabatan ini. Juga tentang perkawanan antara kau, aku, dan kawan kita di Klaten itu. 

Kau tahu aku tak pernah meminta apa pun darimu meski aku tahu aku bisa dan kau tak akan menolak. Kau juga tahu aku tak pernah marah meski berminggu-minggu baru kau balas pesanku. Aku cukup tahu diri untuk tidak mendekat. Di mataku, kau terlampau tinggi dan aku terlampau kecil untuk mengaku dekat.

Namun, saat aku menghindar dari perjumpaanku denganmu di beberapa kesempatan, kau tetap menunjukkan sosok yang tak berubah. Ketika aku bersembunyi di antara kawan jurnalis, tiba-tiba kau menghampiri dan menyapa hangat sebagaimana kawan yang lama tak bersua. "Halo Diana, apa kabar?" Selalu begitu sapamu. 

Aku pun menyambut sapamu dengan gagu dan tertunduk. "Baik. Apa kabar? Sehat?" Selalu juga begitu yang kuucapkan. Selebihnya kita akan berbasa-basi dan kemudian saling melambai kembali ke posisi masing-masing. Kau di panggung dan aku di selasar juru potret. Kau di mimbar dan aku memegang perekam di hadapanmu. 

Kulihat matamu ewuh saban kali pandangan kita bersitatap. Barangkali kau iba. Tapi dengan mata pula lantas kuisyaratkan bahwa aku baik-baik saja. Ini sudah tugasku dan aku menikmatinya. Kerjakan tugasmu sebaik kau bisa. Wujudkan cita-cita seperti yang dulu pernah kau ungkapkan padaku. Aku percaya padamu. Semoga kau tak melukai kepercayaan ini. Juga kepercayaan berjuta kader di bawah. 

Selamat bertugas, kawan...
Jaga kesehetan, doaku untukmu...
Terus berjuang dan ikuti jalur yang benar. Semoga Tuhan menjagamu dari kejatuhan yang tak pantas.

4 comments:

puguh wardono said...

Sa,it's about HK, isn't, it ??? Hahahaaa !!!

puguh wardono said...

Sa, it's about HK, isn't, it ??? Hahaha !!!

puguh wardono said...

Sa,it's about HK, isn't, it ??? Hahahaaa !!!

puguh wardono said...

Sa,it's about HK, isn't, it ??? Hahahaaa !!!