Saturday, November 1, 2014

Sujud di Ujung Senja

Permulaan November. Matahari sedang menggelincir ke barat. Tabuhan bedug terdengar bertalun-talun dari langgar sebelah rumah. Air dari sumber pegunungan Lawu yang mengalir melalui pipa Pavin membasahi wajah hingga kaki. Rasa adem perlahan menjalari selaput kulit. Batin mendadak sejuk dan bibir tergetar kelu. Ada yang tak biasa.

Di balik kain putih yang menyelimuti tubuh, berusaha menyembunyikan debar jantung yang terasa lebih cepat. Ayat-demi ayat terlafalkan. Tenggelam dalam sujud senja yang syahdu. Doa terpimpin dibacakan. Tubuh tiba-tiba terguncang. Air mata pun berderai tak terbendung. 

Dia hadir senja itu. Dengan pandangan tertunduk. Dan bincang kisah tentang impian masa depan. Tersentak mendengar urai impian yang senada dengan apa yang ada di dalam benak. Tentang rumah dengan ketenangan pedesaan dan tawa riang bocah-bocah kampung. Tentang sawah, kodok, dan air mancur dari sungai kecil. Tentang desa wisata dan berkebun. Juga tentang perpustakaan dan pendidikan kearifan alam.

Ya, dia yang ingin meminang dengan buku AR Rahman itu tiba-tiba hadir di ujung senja kaki Lawu. Menyajikan perbincangan tentang buku dan keinginan menulis. Isyarat apa yang Engkau ingin tunjukkan duhai penguasa hidup? Sahaya pasrah dan tak ingin mendahului kehendakMu. Juga tak ingin melukai yang lain. Terserah padaMu.

0 comments: